Friday, July 01, 2016
Tuesday, June 28, 2016
DONGENG SINGKAT CERITA LEGENDA BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH
Legenda Bawang Merah dan Bawang - Dahulu kala, ada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Mereka memiliki seorang puteri yang diberi nama bawang putih. Namun pada suatu hari, ibu bawang putih jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Setelah kejadian itu, bawang putih hidup sendiri dengan ayahnya. Ayah bawang putih adalah seorang pedagang yang sering bepergian jauh. Karena tak tega meninggalkan bawang putih sendirian di rumah, akhirnya ayah bawang putih memutuskan menikah lagi dengan seorang janda. Janda tersebut memiliki satu anak yang diberi nama bawang merah.
Sebenarnya niat ayahnya adalah agar bawang putih tak kesepian dan memiliki teman yang membantunya di rumah. Namun ternyata, ibu dan kakak tiri bawang putih memiliki sifat yang jahat. Mereka bersikap baik pada bawang putih hanya ketika ayahnya ada bersamanya. Namun ketika ayahnya pergi berdagang, mereka menyuruh bawang putih mengerjakan segala pekerjaan rumah seperti seorang pembantu. Ternyata kemalangan bawang putih belum berhenti sampai disitu, selang beberapa waktu, ayah bawang putih juga jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Kini, ibu tiri dan bawang merah bersikap semakin jahat pada bawang putih. Bahkan waktu beristirahat bawang putih juga semakin terbatas. Tiap hari dia harus melayani semua kebutuhan bawang merah dan ibu tirinya. Sampai disuatu pagi ketika bawang putih mencuci di sungai, tanpa disadari salah satu selendang kesayangan bawang merah hanyut. Ketika sampai rumah, bawang merah memarahi bawang putih karena selendangnya tak dia temukan. Dia menyuruh bawang putih mencari selendang itu dan tidak boleh pulang sebelum menemukanya. Akhirnya, bawang putih menyusuri sungai untuk mencari selendang itu. Hingga larut malam, selendang itu belum juga dia temukan. Ketika tengah menyusuri sungai, bawang putih nelihat sebuah gubuk, ternyata gubuk itu dihuni oleh seorang nenek sebatang kara. Bawang putih akhirnya meminta izin untuk menginap semalam.
Nenek itu cukup baik hati, dia mempersilahkan bawang putih untuk menginap. Nenek itu juga menanyakan perihal tentang bawang putih, dan bagaimana dia sampai di tempat itu. Bawang putih pun menceritakan nasib yang dialaminya, hingga nenek yang mendengar itu merasa iba. Ternyata, selendang yang dicari bawang putih ditemukan oleh si nenek. Dan nenek itu mau menyerahkan selendang itu dengan syarat bawang putih harus menemaninya selama seminggu. Bawang putih menerima tawaran itu dengan senang hati.
Waktu seminggupun berlalu, dan kini waktunya bawang putih untuk pulang. Karena selama tinggal disitu bawang putih sangat rajin, nenek itu memberikan selendang yang dulu dia temukan dan memberi hadiah pada bawang putih. Dia disuruh memilih diantara dua buah labu untuk dia bawa. Awalnya bawang putih ingin menolak, namun karena ingin menghormati pemberian, bawang putih akhirnya memilih labu yang kecil dengan alasan takut tak kuat membawanya. Dan nenek itu hanya tersenyum mendengar alasan itu.
Setelah itu, bawang putihpun segera pulang dan menyerahkan selendang itu pada bawang merah. Setelah itu dia segera ke dapur untuk membelah labu dan memasaknya. Namun betapa terkejutnya dia, karena ketika labu itu dibelah, ternyata labu itu berisi emas permata yang sangat banyak. Secara tak sengaja, ibu tiri bawang putih melihatnya dan langsung merampas semua emas itu. Bukan hanya itu, dia juga memaksa bawang putih untuk menitakan dari mana dia mendapat labu ajaib itu. Bawang putihpun menceritakan semua kejadian yang dialaminya.
Mendengar cerita bawang putih, muncul niat jahat di benak ibu tiri yang serakah itu. Esok paginya, dia menyuruh bawang merah untuk melakukan hal yang sama seperti yang silakukan bawang putih, dia berharap akan bisa membawa pulang labu yang lebih besar sehingga isinya lebih banyak.
Singkat cerita, bawang merah yang malas itu tiba di gubuk nenek, dan diapun tinggal disitu selama seminggu. Namun karena sifatnya yang pemalas, dia hanya bermalas-malasan saja dan tidak mau membantu pekerjaan si nenek. Dan ketika sudah waktunya pulang, diapun di suruh memilih labu sebagai hadiah. Tanpa fikir panjang, dia langsung mengambil labu yang besar dan segera berlari pulang tanpa mengucapkan terimakasih.
Setelah tiba dirumah, ibunya sangat senang melihat anaknya membawa labu yang sangat besar. Dia berfikir pasti emas di dalamnya cukup banyak. Karena tak ingin diketahui oleh bawang putih dan takut jika bawang putih minta bagian, mereka menyuruh bawang putih mencuci disungai. Setelah itu mereka masuk kamar dan menguncinya dengan rapat.
Dengan tak sabar, mereka segera membelah labu itu. Namun diluar dugaan, bukan emas yang ada didalamnya. Melainkan labu itu dipenuhi ular, kalajengking, kelabang, dan berbagai hewan berbisa. Dengan cepat hewan-hewan itu keluar dari labu dan menggigit kedua anak dan ibu serakah itu. Mereka tak mampu kabur, karena pintu kamar mereka kunci rapat dan mereka tutup dengan lemari dari dalam. Akhirnya, mereka mati di dalam kamar bersama keserakahan mereka. Setelah mereka mati, hewan-hewan berbisa itu kenyap tak berbekas. Demikian dongeng singkat yang saya ceritakan mengenai cerita bawang merah bawang putih semoga bermanfaat.
Sumber: http://dongengterbaru.blogspot.co.id/2015/08/cerita-bawang-merah-bawang-putih.html
Biodata Jennifer Lawrance
![]() |
| Jennifer Lawrence |
Tanggal Lahir : 15 Agustus 1990
Tempat Lahir : Louisville, Kentucky, AS
Agama : Kristen
Tinggi Badan : 170
Kewarganegaraan : Amerika
Ayah : Gary LawrencePekerjaan Ayah : Pemilik Perusahaan KonstruksiPekerjaan Ibu : Kamp Anak-Anak
Ibu : Karen
Zodiac : Leo
Ibu : Karen
Zodiac : Leo
Lawrence lahir dan
dibesarkan di Louisville, Kentucky. Dia adalah putri dari Karen (Koch)
Lawrence, manajer perkemahan anak-anak, dan Gary Lawrence, seorang pekerja
konstruksi. Dia memiliki dua kakak laki-laki, Ben dan Blaine. Pada usia 14, ia memutuskan untuk mengejar karir akting, membujuk orangtuanya untuk membawanya
ke New York City untuk menemukan seorang agen pencari bakat. Sebelum menemukan
keberhasilan dalam Hollywood, Lawrence menghadiri Kammerer Middle School di Louisville. Dia lulus dari sekolah tinggi dua tahun lebih awal dengan nilai
3,9, dan berfokus pada karir di dunia akting. Sementara tumbuh dewasa dan di
antara akting, Lawrence bekerja sebagai asisten perawat di musim panas pada
perkemahan anak anak yang dijalankan ibunya.
LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
|
Nama
Mahasiswa : Kamila
Sagafia
NPM : 13515647
Tanggal
Pemeriksaan : 21 April 2016
|
Nama Asisten : 1. Rama Rifandi
2. Obaja L. Raja
Paraf Asisten :
|
1.
Percobaan :
Indera Penciuman
Nama
Percobaan : Cara
kerja bau hio, dupa dan obat nyamuk bakar
Nama
Subjek Percobaan : Kamila
Sagafia
Tempat
Percobaan : Laboratorium
Psikologi Faal
a.
Tujuan
Percobaan : Untuk
membuktikan bahwa zat yang dibaui adalah
zat yang berupa gas, serta membedakan
beberapa wewangian mulai dari bau yang tidak
enak sampai bau yang enak.
b.
Dasar
Teori : Penciuman
disebut suatu indera kimia karena
menerima rangsangan
kimia yang dibawa oleh udara. Bagian atas hidung mempunya area sempit yang
berisi sel penerima rangsangan penciumana. Fungsi penciuman adalah melakukan
transduksi mengubah reaksi kimia menjadi rangsangan syaraf.
Indera penciuman adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan melalui aroma yang dihasilkan. Organ tubuh yang berhubungan dengan indera penciuman adalah hidung, selain sebagai alat pernafasan hidung juga berfungsi sebagai alat penciuman. Hidung juga berperan dalam resonasi suara dan menyaring udara yang masuk kedalamnya. Berbagai jenis bau wangi maupun busuk dapat dicium oleh kita melalui hidung. Organ pembau hanya memiliki tujuh reseptor namun dapat membedakan lebih dari 600 aroma
Indera penciuman adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan melalui aroma yang dihasilkan. Organ tubuh yang berhubungan dengan indera penciuman adalah hidung, selain sebagai alat pernafasan hidung juga berfungsi sebagai alat penciuman. Hidung juga berperan dalam resonasi suara dan menyaring udara yang masuk kedalamnya. Berbagai jenis bau wangi maupun busuk dapat dicium oleh kita melalui hidung. Organ pembau hanya memiliki tujuh reseptor namun dapat membedakan lebih dari 600 aroma
yang berbeda. Penciuman
(olfaction) terjadi karena adanya molekul-molekul yang menguap dan masuk
ke saluran hidung dan mengenai olfactory
membrane. Manusia memiliki kira-kira 10000 sel reseptor berbentuk rambut.
Alat pembau atau sistem olfaction biasajuga disebut dengan Organon Olfaktus,
dapat menerima stimulus benda-benda kimia sehingga reseptomya disebut pula
chemoreceptor. Organon olfaktus terdapat pada hidung bagian atas, yaitu
pada concha superior dan membran ini hanya menerimarangsang
benda-benda yang dapat menguap dan berwujud gas. Bagian-bagiannya adalah
sebagai berikut:
a. Concha Superior
b. Concha Medialis
c. Concha Inferior
d. Septum nasi (sekat
hidung)
Anatomi dan fisiologi
penafasan bagian atas yaitu:
(I) Rongga Hidung,
terdiri atas:
1.
Vestibulum;
yang
dilapisi oleh sel submukosa sebagai proteksi.
2. Struktur konka;
yang berfungsi
sebagai proteksi terhadap udara luar karena strukturnya yang berlapis.
3).Sel silia;
yang berperan
untuk melemparkan benda asing ke luar dalam usaha untuk membersihkan jalan
napas.
Bagian internal hidung
adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri
oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum.
(II) Faring
Faring merupakan
saluran yang memiliki panjang kurang lebih 13 cm yang menghubungkan nasal dan
rongga mulut kepada laring pada dasar tengkorak.
(III) Laring
Laring tersusun atas
9 Cartilago (6 Cartilago kecil dan
3 Cartilago besar). Terbesar adalah Kartilago thyroidyang
berbentuk seperti kapal, bagian depannya mengalami penonjolan membentuk “adam’s
apple”, dan di dalam cartilago ini ada pita suara. Fungsi utama laring adalah untuk
memungkinkan terjadinya vokalisasi. Laring juga melindungi jalan napas bawah
dari benda asing dan memudahkan batuk. Laring sering disebut sebagai kotak
suara dan terdiri atas:
a. Epiglotis : daun
katup kartilago yang dapat
menutup saat proses
menelan.
b. Glotis
c. Kartilago Thyroid
c.
Alat
yang Digunakan : Dupa,
hio dan obat nyamuk bakar.
d.
Jalannya
Percobaan : 1.1
Pada percobaan kali ini praktikan diminta
untuk membedakan
bau/aroma dari dupa yang belum dibakar dan obat nyamuk sesudah dibakar. Kemudan
praktikan mengamati sekaligus mencatat perbedaan antara aroma dari dupa dan
obat nyamuk tersebut.
e.
Hasil
Percobaan : 1.1
Hasil Percobaan
1.1.1
Dari hasil pengamatan praktikan,
bau/aroma dari obat nyamuk yang sudah dibakar lebih menyengat daripada
bau/aroma dupa yang belum dibakar.
1.2
Hasil Sebenarnya
1.2.1
Hio, dupa dan obat nyamuk bakar lebih
kuat baunya ketika dibakar.
1.2.2
Karena concha nasal superior hanya menerima rangsangan benda-benda yang
dapat menguap dan berwujud gas.
f. Kesimpulan : Jika dikaitkan dengan
dasar teori diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa
hio, dupa serta obat nyamuk bakar
merupakan zat yang bisa menyebabkan terjadinya rangsangan pada indera penciuman
setelah dibakar. Hal ini mengakibatkan pembakaran zat tersebut bercampur dengan
udara dan menguap sehingga merangsang sel- sel olfaktoria & masuk ke daerah superior hidung,
kemudian reseptor-reseptor olfaktoria memberi respon terhadap bau atau aroma
tersebut .
g.
Daftar Pustaka :
Atkinso,
R.L., Atkinson & E.R. Hilgard. (1993).
Pengantar
psikologi. Nurjanah
Taufiq. Jakarta: Erlangga.
Evelyn
C.Pearce. (2000). Anatomi dan
fisiologi untuk paramedis. Jakarta: PT. Gramedia.
Puspitawati, Ira. 1999. Psikologi Faal. Jakarta: Penerbit
Gunadarma.
2.
Percobaan :
Indera Penciuman
Nama
Percobaan : Cara
kerja membedakan wewangian
Nama
Subjek Percobaan : Kamila
Sagafia
Tempat
Percobaan : Laboratorium
Psikologi Faal
a.
Tujuan
Percobaan : Untuk
membuktikan bahwa zat yang dibaui adalah
zat yang berupa gas, serta membedakan
beberapa wewangian mulai dari bau yang tidak
enak sampai bau yang enak.
b.
Dasar
Teori : Penciuman
disebut suatu indera kimia karena
menerima rangsangan
kimia yang dibawa oleh udara. Bagian atas hidung mempunya area sempit yang
berisi sel penerima rangsangan penciumana. Fungsi penciuman adalah melakukan
transduksi mengubah reaksi kimia menjadi rangsangan syaraf.
Indera penciuman adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan melalui aroma yang dihasilkan. Organ tubuh yang berhubungan dengan indera penciuman adalah hidung, selain sebagai alat pernafasan hidung juga berfungsi sebagai alat penciuman. Hidung juga berperan dalam resonasi suara dan menyaring udara yang masuk kedalamnya. Berbagai jenis bau wangi maupun busuk dapat dicium oleh kita melalui hidung. Organ pembau hanya memiliki tujuh reseptor namun dapat membedakan lebih dari 600 aroma
Indera penciuman adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan melalui aroma yang dihasilkan. Organ tubuh yang berhubungan dengan indera penciuman adalah hidung, selain sebagai alat pernafasan hidung juga berfungsi sebagai alat penciuman. Hidung juga berperan dalam resonasi suara dan menyaring udara yang masuk kedalamnya. Berbagai jenis bau wangi maupun busuk dapat dicium oleh kita melalui hidung. Organ pembau hanya memiliki tujuh reseptor namun dapat membedakan lebih dari 600 aroma
yang berbeda. Penciuman
(olfaction) terjadi karena adanya molekul-molekul yang menguap dan masuk
ke saluran hidung dan mengenai olfactory
membrane. Manusia memiliki kira-kira 10000 sel reseptor berbentuk rambut.
Alat pembau atau sistem olfaction biasajuga disebut dengan Organon Olfaktus,
dapat menerima stimulus benda-benda kimia sehingga reseptomya disebut pula
chemoreceptor. Organon olfaktus terdapat pada hidung bagian atas, yaitu
pada concha superior dan membran ini hanya menerimarangsang
benda-benda yang dapat menguap dan berwujud gas. Bagian-bagiannya adalah
sebagai berikut:
a. Concha Superior
b. Concha Medialis
c. Concha Inferior
d. Septum nasi (sekat
hidung)
Anatomi dan fisiologi
penafasan bagian atas yaitu:
(I) Rongga Hidung,
terdiri atas:
1.
Vestibulum;
yang
dilapisi oleh sel submukosa sebagai proteksi.
2. Struktur konka;
yang berfungsi
sebagai proteksi terhadap udara luar karena strukturnya yang berlapis.
3).Sel silia;
yang berperan
untuk melemparkan benda asing ke luar dalam usaha untuk membersihkan jalan
napas.
Bagian internal hidung
adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri
oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum.
(II) Faring
Faring merupakan
saluran yang memiliki panjang kurang lebih 13 cm yang menghubungkan nasal dan
rongga mulut kepada laring pada dasar tengkorak.
(III) Laring
Laring tersusun atas
9 Cartilago (6 Cartilago kecil dan
3 Cartilago besar). Terbesar adalah Kartilago thyroidyang
berbentuk seperti kapal, bagian depannya mengalami penonjolan membentuk “adam’s
apple”, dan di dalam cartilago ini ada pita suara. Fungsi utama laring adalah
untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi. Laring juga melindungi jalan napas
bawah dari benda asing dan memudahkan batuk. Laring sering disebut sebagai
kotak suara dan terdiri atas:
a. Epiglotis : daun
katup kartilago yang dapat
menutup saat proses
menelan.
b. Glotis
c. Kartilago Thyroid
c.
Alat
yang Digunakan : Beberapa
macam wewangian.
d.
Jalannya
Percobaan : 1.1
Pada percobaan berikut ini praktikan diminta
untuk mencium sekaligus
membedakan bau/aroma dari beberap jenis wewangian. Disini terdapat 4 macam
wewangian, kemudaian setelah praktikan mencium aroma wewangian tersebut
satu-persatu maka hasilnya pun harus langsung dicatat sebagai hasil dari
percobaan ini.
e.
Hasil
Percobaan : 1.1
Hasil Percobaan
1.1.1
(1) Kopi
(2) Jahe
(3) Kayu manis
(4) Jeruk nipis
1.2 Hasil Sebenarnya
1.2.1 Biasanya dalam hal kemampuan
mengingat bau, ♀ lebih baik.
1.2.2
Proposisinya
dari 5 macam wewangian → ♀ = 5 dan ♂ = 3.
1.2.3
Hal ini disebabkan
karena pada ♀ ruang dalam menerima gas (concha nasal superior) lebih luas.
1.2.4
Semakin tajam
wanginya → semakin mudah dikenal.
1.2.5
Semakin lembut
wanginya → sulit dikenal.
f. Kesimpulan : Jika
dikaitkan dengan dasar teori di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa
manusia bisa membedakan berbagai macam bau bukan karena memiliki banyak
reseptor pembau namun karena kemampuan tersebut ditentukan oleh prinsip-prinsip
komposisi (component principle),
organ pembau hanya memiliki tujuh reseptor namun dapat membedakan lebih dari
600 aroma yang berbeda. Seseorang yang memiliki hidung mancung akan lebih
sensitif atau lebih peka terhadap bau. Organon
olfaktus terdapat pada hidung bagian atas, yaitu pada concha superior dan membran
ini hanya menerima rangsang benda-benda yang dapat menguap dan berwujud
gas.
g.
Daftar Pustaka :
Atkinso,
R.L., Atkinson & E.R. Hilgard. (1993).
Pengantar
psikologi. Nurjanah
Taufiq. Jakarta: Erlangga.
Evelyn
C.Pearce. (2000). Anatomi dan
fisiologi untuk paramedis. Jakarta: PT. Gramedia.
Puspitawati, Ira. 1999. Psikologi Faal. Jakarta: Penerbit
Gunadarma.
3.
Percobaan :
Indera Pengecap
Nama
Percobaan : Merasakan
berbagai macam rasa
Nama
Subjek Percobaan : Kamila
Sagafia
Tempat
Percobaan : Laboratorium
Psikologi Faal
a.
Tujuan
Percobaan : Memahami
dan mengetahui bahwa lida
merupakan alat pengecap
rasa serta membuat peta rasa.
b.
Dasar
Teori : Kita
jarang memikirkan bahwa sebenarnya ada
ratusan bahan kimia
yang dimasukkan ke dalam mulut kita setiap hari. Tetapi ketika makan kita
selalu hanya mengetahui, makanannya terasa enak atau tidak. Kita juga merasa
jika lidah kita terbakar akibat makanan atau minuman yang panas, sehingga
kemampuan pengecapan menjadi berkurang. Pengecapan disebut indera kimiawi (chemical sense) karena rangsangannya
terdiri dari bermacam-macam bahan kimia. Pada permukaan lidah terdapat penerima
yang disebut pucuk pengecap, untuk 4 macam citarasa dasar: manis, asin, asam,
pahit. Fungsi puncuk pengecap adalah melakukan trasduksi yakni mengubah reaksi
kimia menjadi rangsangan syaraf. Kita telah biasa mengenal hanya 4 citarasa
dasar: manis, asin, asam, pahit. Menurut Plotnik dalam bukunya “Introduction to psychology” terdapat
rasa yang kelima yaitu rasa daging-keju yang terdapat dalam keju,daging, pizza,
dan dinamakan umami. Lidah berisi
sensor-sensor (pucuk-pengecap) untuk 5 cita rasa. A) Sensor-sensor (pucuk
pengecapan) untuk 5 citarasa dasar, terutama terletak pada bagian belakang,
depan, dan samping lidah. B) Permukaan lidah, parit berisi lapisan pucuk
pengecapan. C) Pucuk pegecapan, berfungsi untuk mengubah larutan kimia menjadi
sinyal elektrik. Alasan mengapa banyak dari kita menyukai makanan masnis karena
sejak lahir, kita mewarisi kecenderumgan untuk memilih rasa manis atau asin.
Seperti sebagian besar binatang, manusia juga menghindari zat yang terasa
pahit, karena zat-zat yang beracun umumnya pahit. Jika anda termasuk salah
seorang yang menyukai rasa asamnya jeruk, ini disebabkan karena orang yang
dapat belajar menyukai rasa pahit, akhirnya dapat junga menyenangi rasa selain
rasa manis misalnya rasa asamnya jeruk. Pengecapan dimulai dari proses pada
parit dipermukaan lidah kita. Lidah mempunyai lapisan mukosa yang
menutupi bagian atas lidah, dan permukaannya tidak rata karena ada
tonjolan-tonjolan yang disebut dengan papilla, padapapilla ini
terdapat reseptor untuk membedakan rasa makanan. Apabila pada bagian lidah
tersebut tidak terdapat papilla lidah menjadi tidak sensitif
terhadap rasa. Papilla atau tonjolan-tonjolan pada lidah
memiliki bentuk-bentuk tertentu, yaitu: 1. Tonjolan berbentuk seperti
benang-benang halus yang disebut denganPapilla filiformis, banyak
terdapat dibagian depan lidah. 2. Tonjolan berbentuk seperti kepala jamur yang
disebut papilla fungiformis, banyak terdapat dibagian depan dan
sisi lidah. 3. Tonjolan yang berbentuk bulat yang disebut papilla
circumvalata, tersusun seperti huruf V terbalik, banyak terdapat dibagian
belakang lidah.
Di dalam satu papila
terdapat banyak tunas pengecap. Setiap tunas pengecap terdiri dari dua jens
sel, yaitu sel penyokong yang berfungsi untuk menopang dan sel pengecap
yang memiliki tonjolan seperti rambut keluar dari tunas pengecap. Leher dari
semua sel ini berhubungan satu sama lain ke sel epitel sekelilingnya sehingga
reseptor yang terpapar ke cairan dalam rongga mulut merupakan mahkota apeks
mikrofilinya. Tiap tunas pengecap disarafi oleh 50 serabut saraf dan tiap
serabut saraf menerima rata-rata 5 tunas pengecap. Jika saraf sensori dipotong,
maka tunas pengecap yang disarafinya akan berdegenerasi kemudian hilang. Pada
sistem gustatory terdapat saraf kranial bgian facial (VII), glossopharyngeal
(IX), dan vagus (X). Ketidakmampuan dalam membau disebutanosmia sedangkan
ketidakmampuan dalam perasa disebut ageusia. Penyebab
neurologis yang paling umum adalah benturan pada kepala yang menyebabkan
bergesernya otak di dalam tengkorak dan mengoyak saraf-saraf olfactorykarena
masuk ke dalam lubang-lubang permiabel di cribriform plate.
c.
Alat
yang Digunakan : Cotton bud, 8
larutan rasa (manis, asin, pahit, dam
pedas), sapu tangan
(handuk kecil)
d.
Jalannya
Percobaan : 1.1
Pada percobaan ini, praktikan diminta untuk
mencicipi 8 larutan
yang telah disediakan oleh asisten laboratorium dengan mencelupkan cotton bud kedalam larutan tersebut
satu-persatu. Kemudian jika ujung cotton
bud telah dicelupkan ke dalam salah satu larutan, praktikan mulai
mencicipi/merasakan dengan lidah. Setalah praktikan sudah mengetahui hasilnya,
tulislah hasil tersebut sesai urutan, (lakukam hal yang sama pada percobaan
larutan berikutnya).
e.
Hasil
Percobaan : 1.1
Hasil Percobaan
1.1.1
1. Manis
2. Asin
3. Asam
4. Pedas
5. Pedas
6. Asam
7. Pedas
8. Pahit
1.2 Hasil Sebenarnya
1.2.1 Larutan 1: Manis
Larutan 2: Asin
Larutan 3: Asam
Larutan 4: Pedas-Manis
Larutan 5: Pedas-Asin
Larutan 6: Pedas-Asam
Larutan 7: Pedas-Pahit
Larutan 8: Pahit
f. Kesimpulan : Jika
dikaitkan dengan dasar teori diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa
lidah merupakan bagian tubuh yang
sangat penting untuk indera pengecap dimana terdapat kemoreseptor untuk
merasakan respon rasa manis, asin, asam, dan pahit. Manusia dapat membedakan
perbedaan rasa dikarena pada lidah terdapat reseptor perasa yang dapat
membedakan rasa yang disebut taste
buds. Lidah mempunyai
tonjolan-tonjolan atau yang disebut dengan papilla,
pada papilla ini terdapat reseptor untuk membedakan
rasa makanan. Apabila pada bagian lidah tersebut tidak terdapat papilla, maka hal tersebut menyebabkan lidah menjadi tidak
sensitif terhadap rasa.
g.
Daftar Pustaka :
Irwanto.
(1989). Psikologi umum panduan
mahasiswa. Jakarta:
PT.Gramedia.
Riyanti, D.B.P., S.H Prabowo. (1998). Psikologi
umum
1.
Jakarta: Penerbit Gunadaram.
Puspitawati, Ira.
(1999). Psikologi Faal. Depok: Penerbit Universitas
Gunadarma
LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
|
Nama
Mahasiswa : Kamila
Sagafia
NPM : 13515647
Tanggal
Pemeriksaan : 3
May 2016
|
Nama Asisten : 1. Abella Chyntia
2. Dyah
Permatasari
Paraf Asisten :
|
1.
Percobaan :
Indera Peraba
Nama
Percobaan : 1.1
Tingkat Kasar – Halus
1.2 Membedakan Suhu Air
1.3 Membedakan Suhu 3 Cairan
Nama
Subjek Percobaan : Kamila
Sagafia
Tempat
Percobaan : Laboratorium
Psikologi Faal
a.
Tujuan
Percobaan : Untuk
mengetahui adanya reseptor tekana, sakit,
sentuhan, dingin dan panas pada kulit, serta mengetahui letak
masing-masing reseptor.
b.
Dasar
Teori : Indera
peraba mencakup tekanan, temperatur dan
rasa sakit. Di bawah
lapisan kulit terdapat setengah lusin penyesnsor mini yang merupakan penerima
indera peraba. Fungsi dari indera peraba adalah menhubah tekanan mekanis atau
perubahan temperatur menjadi rangsangan syaraf yang dikirim ke otak untuk
diproses. Selanjutnya akan dijelaskan bagaimana sensor mekanik mini berfungsi.
Bila menganati dengan cermat permukaan kulit, kita kan melihat selaput halus
yang sebagian tertutup dengan aman. Ada yang menyentuh sensor di sekitar
kantung rambut/bulu (misalnya di kulit lengan), yang berbeda sedikit dengan
sensor dalam kulit tanpa rambut/bulu (misalnya di telapak tangan). 1). Kulit
yang merupakan organ dalam paling luas mempunyai 3 lapisan. Kulit paling luar
merupakan film tipis dari sel mati yang tidak memiliki sel penerima. Persis di
bawah lapisan mati terdapat penerima pertama yang kelihatan seperti kumpulan
benang. Di bangian tengah yang merupakan lapisan tebal dari kulit terdapat
berbagai penerima (receptor) dengan
fungsi dan bentuk yang berbeda. 2). Beberapa sensor utama dalam sselaput tengah
kulit adalah: A.) Rambut Penerima (Hair
Receptors). Dalam selaput tengah terdapat syaraf bebas terakhir yang
dibungkus di sekitar dasar kantung ranbut, masing-masing disebut rabut
penerima. Rembut penerima merespon sesuatu yang panas misalnya api. B.) Syaraf
Bebas Akhir. Dekat dengan lapisan luar kulit adalah kelompok perpanjangan
benang yang disebut syaraf bebas akhir, karena ia tidak memiliki pelindung yang
mengelilinginya. C.) Sel Darah Pacinian (Pacinian
Corpusle). Dalam lapisan yang gemuk di kulit terdapat sensor peraba yang
paling luas yang disebut sel darah pacinian. Penerima ini yang mempunyai
lapisan sendiri seperti irisan bawang sangat sensitif untuk meraba dan
merupakan penerima satu-satunya yang dapat merespon getaran dan melakukan
penyesuaian secara cepat. Seluruh penerima ini mengirim sinyal elektrik ke
otak.
c.
Alat
yang Digunakan : Tiga
jenis amplas, tiga baskom plastik berisikan
air dengan suhu yang
berbeda, serta tiga macam cairan atau larutan (air, alkolor 70%, aseton).
d.
Jalannya
Percobaan : 1.1
Pada percobaan membedakan tingkat kasar –
halus sebuah benda,
praktikan di minta untuk menutup matanya menggunakan kain penutup mata,
kemudian tutor memberikan amplas pada praktikan sebanyak tiga buah. Praktikan
meraba amplas yang diberikan tutor dan menyebutkan tekstur dari amplas
tersebut.
1.2 Pada percobaan
membedakan suhu air,
praktika di minta
mencelupkan tangan kanan dan tangan kirinya ke baskon yang berisikan air dengan
suhu yang berbeda, lalu tunggu selama 5-10 detik. Setelah itu, praktikan di
minta untuk mengeluarkan tangan kanan dan kirinya dari dalam baskom lalu
mencelupkan kedua tangannya kembali ke dalam baskon yang berada di antara
baskom yang ada di sebelah kanan dan kiri tersebut secara cepat dan bersamaan.
1.3 Pada
percobaan membedakan suhu cairan,
praktikan di minta
untuk merasakan efek dari cairan yang di teteskan ke tangan praktikan, setelah
cairan tersebut berada di permukaan kulit praktikan, kemudian asisten
laboratorium meminta praktikan untuk meniup cairan yang berada di permukaan
kulit praktikan dan mencatat hasil dari percobaan tersebut..
e.
Hasil
Percobaan : 1.1
Hasil Percobaan
1.1.1
Dari hasil pengamatan praktikan, amplas
pertama memiliki tekstur yang halus,
amplas kedua tekstur yang kasar, sedangkan amplas ketiga memiliki tektur yang
sangat kasar.
1.1.2
Dari hasil pengamatan praktikan, tangan
kanan terasa dingin dan tangan kiri terasa hangat.
1.1.3
Dari hasil pengamatan praktikan, saat
tangan di teteskan larutan air, tangan terasa biasa-biasa saja, namum pada saat
di teteskan alkohol 70% dan aseton tangan merasakan suhu yang dingin.
1.2 Hasil
Sebenarnya
1.2.1
Amplas pertama: Halus
Amplas kedua: Kasar
Amplas ketiga: Sangat kasar.
1.2.2
-Biasanya setelah dimasukan ke baskom C,
tangan kanan terasa dingin dan tangan kiri terasa hangat.
-Kulit sebagai Thermoresepor berfungsi untuk mendeteksi panas dan dingin.
-Tangan kanan terasa dingin karena
adanya penguraian kalor à
dari panas ke hangat.
-Tangan kiri terasa hangat terasa
hangat karena adanya menambahan kalor à
dari dingin ke hangat.
1.2.3
-Air lebih dingin daripada hanya di
tiup.
-Alkohor 70% lebih dingin dari air.
-Aseton lebih dingin dari alkohol
70%
-Ada reseptor dingin pada kulit
yang disebut dengan à
End Krause.
f. Kesimpulan : Jika dikaitkan dengan
dasar teori diatas, maka
dapat di tarik sebuah
kesimpulan bahwa kulit berfungsi sebagai thermoreseptor yang menditeksi rasa panas (Ruffini)
dan dingin (End Krause). Tangan kanan yang dimasukan air dingin setelah
itu dimasukan ke air netral mengalami proses ruffini sehingga menjadi hangat. Tangan kiri
yang dimasukan air hangat setelah dimasukan ke air netral mengalami proses End Krausesehingga
menjadi dingin. Respon yang dihasilkan kulit menunjukkan rangsangan yang
terjadi pada kulit.
g.
Daftar Pustaka :
Atkinso,
R.L., Atkinson & E.R. Hilgard. (1993).
Pengantar
psikologi. Nurjanah
Taufiq. Jakarta: Erlangga.
Suparno, P. (2001). Teori perkembangan ognitif jean piaget. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
Walgito, B. (2003). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Penerbit Andi.
2.
Percobaan :
Indera Peraba
Nama
Percobaan : Lokalisasi
Taktil
Nama
Subjek Percobaan : Kamila
Sagafia
Tempat
Percobaan : Laboratorium
Psikologi Faal
a.
Tujuan
Percobaan : Memahami
serta mengetahui kepekaan syaraf
peraba dengan melokalisir tempat yang
ditusukkan keberbagai tempat; serta mengetahui kepekaan TPL (Two Point Localizaton).
b.
Dasar
Teori : Indera
peraba mencakup tekanan, temperatur dan
rasa sakit. Di bawah
lapisan kulit terdapat setengah lusin penyesnsor mini yang merupakan penerima
indera peraba. Fungsi dari indera peraba adalah menhubah tekanan mekanis atau
perubahan temperatur menjadi rangsangan syaraf yang dikirim ke otak untuk
diproses. Selanjutnya akan dijelaskan bagaimana sensor mekanik mini berfungsi.
Bila menganati dengan cermat permukaan kulit, kita kan melihat selaput halus
yang sebagian tertutup dengan aman. Ada yang menyentuh sensor di sekitar kantung
rambut/bulu (misalnya di kulit lengan), yang berbeda sedikit dengan sensor
dalam kulit tanpa rambut/bulu (misalnya di telapak tangan). Reseptor
taktil adalah mekanoreseptor.Mekanoreseptor berespons
terhadap perubahan bentuk dan penekanan fisik dengan mengalamidepolarisasi dan
menghasilkan potensial aksi. Apabila depolarisasinya cukup besar,
maka serat saraf yang melekat ke reseptor akan melepaskan potensial aksi dan
menyalurkan informasi kekorda spinalis dan otak. Reseptor taktil
yang berbeda memiliki kepekaan dan kecepatan mengirim impuls yang berbeda pula.
Dikriminasi titik adalah kemampuan membedakan rangsangan kulit oleh satu ujung
benda dari dua ujung disebut diskriminasi dua titik. Berbagai daerah tubuh
bervariasi dalam kemampuan membedakan dua titik pada tingkat derajat pemisahan
bervariasi. Normalnya dua titik terpisah 2– 4 mm dapat dibedakan pd ujung jari
tangan, 30-40mm dapat dibedakan pada dorsum pedis. Tes dapat menggunakan
kompas, jepitan rambut. Hampir semua informasi mengenai sentuhan, tekanan, dan
getaran masuk ke korda spinalis melalui akar dorsal saraf spinal yang sesuai.
Setelah bersinap di spnia, informasi dengan lokalisasi dibawa oleh serat-serat
A yang melepaskan potensial aksi dengan cepat (beta dan delta) di kirim ke otak
melalui sistem lemniskus kolumna dorsalis. Serat-serat saraf dalam sisitem ini
menyebrang dari kiri ke kanan di batang otak sebelum bersinaps di talamus.
Informasi mengenai suhu dan sentuhan yang lokalisasi kurang baik di bawa ke
korda spinalis melalui serat-serat C yang melepaskan potensial aksi secara
lambat. Info tersebut dikirim ke daerah retikularis di batang otak dan kemudian
ke pusa-pusat yang lebih tinggi melalui serat di sitem anterolateral.
c.
Alat
yang Digunakan : Pulpen,
spidol, penggaris.
d.
Jalannya
Percobaan : 1.1
Praktiakan menutup matanya dengan kain
penutup mata, asisten
laboratorium menitikkan lengan praktikan menggunakan pulpen kemudian praktiakn
harus menikkan lengannya dengan jarak sedekat mungkin denga titik yang tusukan
pada lengan praktikan. Terakhir, asisten laboratorium mengukur dengan penggaris
jarak antara titik yang di tuskkan asisten dengan titik yang di tusukkan oleh
praktikan.
e.
Hasil
Percobaan : 1.1
Hasil Percobaan
1.1.1
Dari hasil percobaan lokalisasi taktil,
jarak anatara titik yang di tusukkan oleh asisten laboratorium dengan titik
yang di tusukkan oleh praktikan hasilnya adalah sekitar 2cm.
1.2 Hasil
Sebenarnya
1.2.1
Bila jarak kurang dari 5cm à syaraf peraba baik.
1.2.2
Bila jarak lebih dari 5cm à syaraf peraba kurang baik
1.2.3
TPL (Two
Point Localizaton) lebih peka pada bagian yang menonjol contohnya seperti
di hidung, mata, bibir ujung jari dan telinga.
f. Kesimpulan : Jika dikaitkan dengan
dasar teori diatas, maka
dapat
disimpulkan bahwa TPL ( Two Point Localization ) lebih peka pada bagian yang
menonjol, seperti bibir, hidung, mata, ujung jari dan telinga. Jarak yang
asisten tusuk dengan yang pratikan dapat tergantung pada waktu. Waktu
mempengaruhi sehingga ada penyebaran sensasi. TPL adalah sistem yang menyebar
dan melingkar.
g.
Daftar Pustaka :
Atkinso,
R.L., Atkinson & E.R. Hilgard. (1993).
Pengantar
psikologi. Nurjanah
Taufiq. Jakarta: Erlangga.
Sherwood, Lauralee.
(2001). Fisiologi manusia dari
sel ke sistem. Alih bahasa oleh Batricia I. Jakarta: EGC.
Walgito, B. (2003). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Penerbit Andi.
3.
Percobaan :
Indera Peraba
Nama
Percobaan : Daya
Membedakan Sifat Benda
Nama
Subjek Percobaan : Kamila
Sagafia
Tempat
Percobaan : Laboratorium
Psikologi Faal
a.
Tujuan
Percobaan : Untuk
membuktikan kepekaan syaraf peraba
terhadap kehalusan benda sampai
kekasaran benda; serta bentuk-bentuk benda (Streognostik).
b.
Dasar
Teori : Indera
peraba mencakup tekanan, temperatur dan
rasa sakit. Di bawah
lapisan kulit terdapat setengah lusin penyesnsor mini yang merupakan penerima
indera peraba. Fungsi dari indera peraba adalah menhubah tekanan mekanis atau
perubahan temperatur menjadi rangsangan syaraf yang dikirim ke otak untuk
diproses. Selanjutnya akan dijelaskan bagaimana sensor mekanik mini berfungsi.
Bila menganati dengan cermat permukaan kulit, kita kan melihat selaput halus
yang sebagian tertutup dengan aman. Ada yang menyentuh sensor di sekitar
kantung rambut/bulu (misalnya di kulit lengan), yang berbeda sedikit dengan
sensor dalam kulit tanpa rambut/bulu (misalnya di telapak tangan). Kepekaan kulit yang berambut terhadap stimulus besar,
sehingga diduga bahwa akhiran saraf yang mengelilingi foliculus rambut adalah reseptor taktil. Kita
dapat membedakan benda – benda tanpa melihat bentuknya. Disini yang berperan
adalah reseptor kinaesthesi.
Bentuk dan berat benda dapat dibedakan dengan reseptor tekanan yang digeserkan.
Perasaan taktil dapat dibedakan menjadi perasaan taktil kasar dan perasaan
taktil halus. Impuls taktil kasar dihantarkan olehtractus spinothalamicus
anterior, sedangkan implus taktil halus dihantarkan melalui faciculus gracilis dan faciculus
cunneatus.
c.
Alat
yang Digunakan : Berbagai
macam benda atau bentuk.
d.
Jalannya
Percobaan : 1.1
Praktikan diminta untuk menutup matanya
denga kain penutup
mata, kemudian asisten laboratorium memberikan sebanyak 5 benda kepada
praktikan secara berurutan, sementara praktikan menebak benda apakah yang di
genggamnya.
e.
Hasil
Percobaan : 1.1
Hasil Percobaan
1.1.1
Dari hasil percobaan daya membedakan
sifat benda yaitu: jeruk, huruf X, C, V
dan W. Dari kelima benda tersebut praktikan bisa menebak sebanyak 4 benda
dengan benar.
1.2
Hasil Sebenarnya
1.2.1
Tidak ada hasil sebenarnya.
f. Kesimpulan : Jika dikaitkan dengan
dasar teori diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa Kepekaan kulit yang berambut terhadap stimulus besar,
sehingga diduga bahwa akhiran saraf yang mengelilingi foliculus rambut adalah reseptor taktil.
Perasaan taktil dapat dibedakan menjadi perasaan taktil kasar dan perasaan
taktil halus. Impuls taktil kasar dihantarkan oleh tractus spinothalamicus anterior sedangkan implus taktil halus
dihantarkan melalui faciculus
gracilis danfaciculus
cunneatus.
g.
Daftar Pustaka :
Atkinso,
R.L., Atkinson & E.R. Hilgard. (1993).
Pengantar
psikologi. Nurjanah
Taufiq. Jakarta: Erlangga.
Plotnik.R. (2005:127). Introductio to psychology 7th edition.
Australia: Thomson & Wodsworth.
Wiramihardja, A. (2005). Pengantar psikologi abnormal. Bandung:
PT. Refika Aditama.
4.
Percobaan :
Indera Peraba
Nama
Percobaan : Gerak
Refleks
Nama
Subjek Percobaan : Kamila
Sagafia
Tempat
Percobaan : Laboratorium
Psikologi Faal
a.
Tujuan
Percobaan : Untuk
mengetahui adanya gerakan-gerakan refleks
pada otot.
b.
Dasar
Teori : Indera
peraba mencakup tekanan, temperatur dan
rasa sakit. Di bawah
lapisan kulit terdapat setengah lusin penyesnsor mini yang merupakan penerima
indera peraba. Fungsi dari indera peraba adalah menhubah tekanan mekanis atau
perubahan temperatur menjadi rangsangan syaraf yang dikirim ke otak untuk
diproses. Selanjutnya akan dijelaskan bagaimana sensor mekanik mini berfungsi.
Bila menganati dengan cermat permukaan kulit, kita kan melihat selaput halus
yang sebagian tertutup dengan aman. Ada yang menyentuh sensor di sekitar
kantung rambut/bulu (misalnya di kulit lengan), yang berbeda sedikit dengan
sensor dalam kulit tanpa rambut/bulu (misalnya di telapak tangan). Gerakan
refleks merupakan respons otomatis dari sebagian tubuh terhadap suatu stimulus.
Gerak refleks adalah gerak yang tidak disengaja atau tidak disadari. Gerakan
ini terjadi dengan tiba–tiba tanpa bisa dicegah. Sistem saraf tak sadar (otonom)
merupakan gabungan dari sensorok dan motorik. Sistem saraf terbagi menjadi dua:
1.) Sistem saraf sadar: adalah sistem saraf yang mengatur
dan mengkoordinasikan semua kegiatan yang dapat diatur menurut kemauan
kita. Contohnya, melempar bola, berjalan, berfikir, menulis, berbicara dan
lain-lain. Otak dam sumsum tulang belakang merupakan bagian dari saraf pusat.
Selain saraf pusat terdapat pula saraf tepi, saraf tepi berada diluar sistem
saraf pusat. Atrinya saraf tepi merupakan saraf yang menyebar pada seluruh
bagian tubuh yang melayani organ-organ tubuh tertentu, seperti kulit,
persendian, otot, kelenjar, saluran darah, dan lain-lain. 2.) Saraf tepi:
-Susunan saraf simpatis/thoracolumbar. Berapangkal pada medula spinalis
didaerah leher dan daerah pinggang. -Susunan saraf parasimpatis/ cranio sacral.
Berapangkal pada meula oblongata dan ada juga di sacrum. Gerak reflek terjadi
sangat cepat. Tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan tanpa
memerlukan kontrol dari otak. Contoh: berkedip, bersin, batuk, dan lain-lain.
Implus dimulai dari reseptor penerima rangsangan. Dilanjutkan menuju ke saraf
sensori ke pusat saraf. Kemudian, implus diterima oleh saraf penghubung tanpa
diolah di dalam otak. Langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan
ke efektor, yaitu otot dan kelenjar. Jalan pintas dalam gerakan reflek ini
disebut dengan lengkung reflek. Jalur gerak reflek dibentuk oleh neuron
sensorik, interneuron, dan neuron motorik yang mengalurkan implus saraf untuk
tipe reflek tertentu. Gerak reflek yang paling sederhana hanya memerlukan dua
tipe sel, yaitu neuron sensori dan neuron motori. Dalam melakukan gerak, tubuh
banyak melakukan koordinasi dengan organ tubuh yang lain. ini menunjukkan
adanya kerjasama antara berbagai bagian tubuh dalam menjalankan fungsinya. Kita
dapat bayangkan diri kita berada dalam sebuah lorong yang gelap, semua indera
pun akan siap siaga. Telinga akan mendengar sesuatu sehalus apa pun, kemudian
jika tubuh menabrak sesuatu, maka akan terjadi gerakan reflek seperti berteriak
atau melompat. Begitulah contoh gerak reflek yang terjadi.
c.
Alat
yang Digunakan : Sebuah
martil refleks dengan bagian depan terbuat
dari karet.
d.
Jalannya
Percobaan : 1.1
Pada percobaan gerak refleks ini praktikan
diinta untuk duduk di
atas meja, kemudian asisten laboratorium memukulkan martil refleks pada otot
yang terdapat di lutut kaki kiri dan kanan praktikan. Setelah itu rasakan dan
perhatikan apa yang terjadi pada saat asisten laboratorium memukulkan martil
refleks tepat pada otot bagian lutut kaki kiri dan kanan.
e.
Hasil
Percobaan : 1.1
Hasil Percobaan
1.2.1
Dari hasil pengamatan praktikan pada
percobaan ini, terdapat refleks pada kaki kiri dan kaki kanan.
1.2
Hasil Sebenarnya
1.2.1
Lutut yang di pukul dengan martil
refleks secara spontan akan bergerak sendriri à
ada gerak refleks.
1.2.2
Namun, tidak harus bergerak à dapat juga terasa seperti tersetrum.
f. Kesimpulan : Jika dikaitkan dengan
dasar teori diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa Gerakan umumnya terjadi secara sadar dan tidak
sadar. Gerakan yang sadar melalui jalan yang panjang. Gerakan reflek ialah
hasil stimulasi sel motorik oleh stimulus yang dibawa oleh neuron aferen dari
jaringan. Ketika lutut kita dipukul dengan martil refleks, hal yang terjadi
selanjutnya adalah lutut kita mengeluarkan respon dengan gerak refleks secara
tiba – tiba. Reflex sentakan lutut merupakan
reflex rentangan. Skema gerak reflex adalah Impuls reseptor neuron sensorik interneuron medulla spinalis
interneuron Neuron motoric efektor gerakan. Untuk gerakan reflex tidak melalui
intermediate pada system syaraf pusat atau otak dan sumsum tulang belakang.
g.
Daftar Pustaka :
Atkinso,
R.L., Atkinson & E.R. Hilgard. (1993).
Pengantar
psikologi. Nurjanah
Taufiq. Jakarta: Erlangga.
Gyton,A,C.(1983).TeksFisiologiKedokteran.
Jakarta : CV.EGC.
Priadi, Arif
.(2009). Biologi. Jakarta : Yudhistira.
Subscribe to:
Posts (Atom)


